Insinerator
Menurut Landrum et al. (1991), keefektifan insinerator
dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Temperatur
yang tinggi akan meningkatkan pemusnahan bahan organik
2. Waktu
tinggal limbah medis padat, karena semakin lama limbah dibakar, maka semakin
sempurna pemusnahan bahan organik yang terkandung di dalamnya
3. Tingkat
kelembaban yang tinggi akan cenderung menyebabkan proses pembakaran berlangsung
jauh lebih lama
4. Karakteristik
dan limbah medis dapat mempengaruhi suhu insinerator dan lamanya proses
pembakaran. Limbah medis yang banyak terdiri atas plastik dan kertas dapat
meningkatkan suhu pembakaran dan akan terbakar lebih cepat. Sebaliknya limbah
medis yang memiliki kelembaban tinggi akan terbakar lebih lama dan dapat
menurunkan suhu bahan bakar amat diperlukan untuk mempercepat proses pembakaran
limbah medis yang memiliki kelembaban tinggi.
Penentuan efisiensi penghancuran dan penghilangan (Destruction
Removal Efficiency) dilakukan dengan menghitung konsentrasi dan/atau
berat limbah B3 di awal dan di akhir proses pengolahan secara termal (PP No.
101 Tahun 2014).
DRE = 
Dimana :
me = massa kontaminan yang masuk ke dalam insinerator
ms = massa kontaminan setelah diinsenerasi
(Puna and Santos, 2010)
Masalah teknis pengoperasian insenerasi terutama berkaitan dengan
proses insenerasi itu sendiri dan upaya pengontrolan polusi udara. Namun, di
lapangan banyak dijumpai masalah yang lebih mendasar lagi, yakni antara lain
kesalahan awal desain, kesalahan pabrikasi, kesalahan pemilihan bahan, dan/atau
kesalahan instalasi alat.
Terhadap kesalahan-kesalahan awal mendasar tersebut tentu tidak
banyak yang bisa didiskusikan, karena kegiatan pengoperasian insenerator oleh
operator seahli apapun dan juga berpengalaman luas, hasilnya dipastikan kurang
atau tidak optimal. Meskipun setiap jenis teknologi dan merek insenerator
memiliki potensial masalah tersendiri (dimana masalah umum dan solusinya
biasanya juga dibahas dalam SOP masing-masing). Berikut adalah beberapa contoh
masalah teknis yang umum dijumpai dan solusi praktisnya.
No
|
Masalah Teknis
|
Analisis dan Solusi Praktis
|
1
|
Asap berlebih pada cerobong
|
·
Temperatur pada ruang bakar – 2 kurang tinggi, sehingga harus
dinaikkan, atau
·
Temperatur pada ruang bakar – 2 kurang tinggi, sehingga harus
dinaikkan, atau pengumpanan limbah medis terlalu berlebih
·
Problem pada jenis limbah yang dibakar
·
Jumlah ekses udara bakar kurang pada ruang bakar – 2, atau
·
Temperatur pengoperasian terlalu tinggi pada ruang bakar – 1
|
2
|
Asap
berwarna hitam
|
·
Kurangi kecepatan pengumpanan limbah medis
·
Tingkatkan ekses udara bakar pada ruang bakar– 2
·
Kurangi kandungan VOC pada umpan
·
Kurangi temperature pada ruang bakar – 1
|
3
|
Asap
berwarna putih
|
· Asap putih mengindikasikan kehadiran aerosol pada cerobong, maka
tingkatkan kapasitas pembakar (burner) pada ruang bakar – 2
Kurangi suplai udara bakar pada ruang bakar – 1 dan 2
|
4
|
Asap
keluar dari pintu
insenerator
atau ruang
bakar - 1
|
· Tekanan negatif (vacuum) pada ruang bakar – 1 berkurang atau
berubah menjadi tekanan positif, maka kurangi suplai udara ekses pada ruang –
1.
· Hindari pengumpanan limbah yang bersifat VOC
· Kurangi kecepatan pengumpanan limbah medis. Atur akses pengeluaran abu
· Atur draft control berupa damper dan kipas angin
|
5
|
Pembakaran
tidak
sempurna
|
· Cek dan pastikan kelancaran suplai BBM ke burner – 1
· Cek performa burner apakah perlu diperbaik atau diganti
· Cek underfire air setting dan atur secara trial
·
Penarikan, pengumpulan dan pemisahan abu harus rutin dilakukan
agar tidak menyumbat
|
(Kementrian Lingkungan Hidup, 2014)