Monday, June 6, 2016

Teknologi Insinerator

Insinerator

Menurut Landrum et al. (1991), keefektifan insinerator dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Temperatur yang tinggi akan meningkatkan pemusnahan bahan organik
2. Waktu tinggal limbah medis padat, karena semakin lama limbah dibakar, maka semakin sempurna pemusnahan bahan organik yang terkandung di dalamnya
3. Tingkat kelembaban yang tinggi akan cenderung menyebabkan proses pembakaran berlangsung jauh lebih lama
4. Karakteristik dan limbah medis dapat mempengaruhi suhu insinerator dan lamanya proses pembakaran. Limbah medis yang banyak terdiri atas plastik dan kertas dapat meningkatkan suhu pembakaran dan akan terbakar lebih cepat. Sebaliknya limbah medis yang memiliki kelembaban tinggi akan terbakar lebih lama dan dapat menurunkan suhu bahan bakar amat diperlukan untuk mempercepat proses pembakaran limbah medis yang memiliki kelembaban tinggi.

Penentuan efisiensi penghancuran dan penghilangan (Destruction Removal Efficiency) dilakukan dengan menghitung konsentrasi dan/atau berat limbah B3 di awal dan di akhir proses pengolahan secara termal (PP No. 101 Tahun 2014).
DRE     =         
Dimana :
me        = massa kontaminan yang masuk ke dalam insinerator
ms        = massa kontaminan setelah diinsenerasi
(Puna and Santos, 2010)

Masalah teknis pengoperasian insenerasi terutama berkaitan dengan proses insenerasi itu sendiri dan upaya pengontrolan polusi udara. Namun, di lapangan banyak dijumpai masalah yang lebih mendasar lagi, yakni antara lain kesalahan awal desain, kesalahan pabrikasi, kesalahan pemilihan bahan, dan/atau kesalahan instalasi alat.
Terhadap kesalahan-kesalahan awal mendasar tersebut tentu tidak banyak yang bisa didiskusikan, karena kegiatan pengoperasian insenerator oleh operator seahli apapun dan juga berpengalaman luas, hasilnya dipastikan kurang atau tidak optimal. Meskipun setiap jenis teknologi dan merek insenerator memiliki potensial masalah tersendiri (dimana masalah umum dan solusinya biasanya juga dibahas dalam SOP masing-masing). Berikut adalah beberapa contoh masalah teknis yang umum dijumpai dan solusi praktisnya.

Masalah dan Solusi Praktis Penggunaan Insinerator


No
Masalah Teknis
Analisis dan Solusi Praktis
1
Asap berlebih pada cerobong
·  Temperatur pada ruang bakar – 2 kurang tinggi, sehingga harus dinaikkan, atau
·  Temperatur pada ruang bakar – 2 kurang tinggi, sehingga harus dinaikkan, atau pengumpanan limbah medis terlalu berlebih
·    Problem pada jenis limbah yang dibakar
·    Jumlah ekses udara bakar kurang pada ruang bakar – 2, atau
·    Temperatur pengoperasian terlalu tinggi pada ruang bakar – 1

2
Asap berwarna hitam

·    Kurangi kecepatan pengumpanan limbah medis
·    Tingkatkan ekses udara bakar pada ruang bakar– 2
·    Kurangi kandungan VOC pada umpan
·    Kurangi temperature pada ruang bakar – 1
3
Asap berwarna putih

·   Asap putih mengindikasikan kehadiran aerosol pada cerobong, maka tingkatkan kapasitas pembakar (burner) pada ruang bakar – 2
                     Kurangi suplai udara bakar pada ruang bakar – 1 dan 2
4
Asap keluar dari pintu
insenerator atau ruang
bakar - 1 
·  Tekanan negatif (vacuum) pada ruang bakar – 1 berkurang atau berubah menjadi tekanan positif, maka kurangi suplai udara ekses pada ruang – 1.
·   Hindari pengumpanan limbah yang bersifat VOC
·    Kurangi kecepatan pengumpanan limbah medis. Atur akses pengeluaran abu
·    Atur draft control berupa damper dan kipas angin
5
Pembakaran tidak
sempurna
·    Cek dan pastikan kelancaran suplai BBM ke burner – 1
·      Cek performa burner apakah perlu diperbaik atau diganti
·      Cek underfire air setting dan atur secara trial
·    Penarikan, pengumpulan dan pemisahan abu harus rutin dilakukan agar tidak menyumbat

(Kementrian Lingkungan Hidup, 2014)

No comments:

Post a Comment